Masyarakat Adat Kepulauan Fam- Raja Ampat Deklarasikan Kawasan Konservasi

19:44:53, - 16 Februari 2017 - Berita Pemerintah - - By : Petrus Rabu

Masyarakat Adat Kepulauan Fam- Raja Ampat Deklarasikan Kawasan Konservasi

Masyarakat adat Kepulauan Fam-Distrik Waigeo Barat Kepulauan Kabupaten Raja Ampat mendeklarasikan wilayahnya sebagai kawasan konservasi laut atau kawasan perlindungan dari berbagai tindakan dan penangkapan ikan secara liar/ileggal. Deklarasi adat yang berlangsung di Pulau Meoskor, Kamis 16 Februari 2017   melibatkan  Masyarakat adat Kampung Fam, Masyarakat Adat Kampung Saupapir dan Masyarakat Adat Kampung Saukabu-Distrik Waigeo Barat Kepulauan Raja Ampat.

Masyarakat Adat Ketiga Kampung tersebut menyepakati Kawasan tersebut sebagai Kawasan Konservasi yang akan dikelola masyarakat dengan dua zona yakni zona pemanfaatan tanpa penangkapan ikan yaitu sekitar gugusan kepulauan Painemo dan Pulau Bambu.

Sedangkan area lain tetap dimanfaatkan sebagai wilayah penangkapan ikan tanpa menggunakan peralatan yang merusak dan dikelola secara tradisional.

Pulau Meoskor sendiri merupakan salah satu pulau dalam gugusan Kepulauan Fam sebagai Kawasan Konservasi Adat masyarakat yang membentang dari Pulau Painemu hingga ke Pulau Bambu dengan luas mencapai 36.000 Ha.

Deklarasi adat yang diawali prosesi ibadah yang pimpinan salah tokoh jemaat sekaligus peringatan Pekabaran Injil di Tanah Papua Tersebut disaksikan Bupati Raja Ampat, Abdul Faris Umlati,SE, Direktur Eksekutif CI Indonesia, Ketut Sarjana Putra, Pimpinan CI Sorong, Albert Nebore, Anggota DPRD Raja Ampat, Charles Imbir, ST serta sejumlah pejabat daerah dan tokoh masyarakat adat.

Bupati Raja Ampat, Abdul Faris Umlati, SE sebelum pemancangan tiang papan nama kawasan menjelaskan selaku pemerintah daerah dirinya memberikan apresiasi yang tinggi atas inisiatif masyarakat Adat Kepulauan Fam yang mendeklarasikan wilayahnya sebagai kawasan konservasi.

Faris, sapaan Abdul Faris Umlati,SE, mengakui bahwa sektor pariwisata dan perikanan merupakan leading sektor dalam pembangunan Kabupaten Raja Ampat. “Dan pengembangan sektor pariwisata dan perikanan sangat dibutuhkan upaya-upaya perlindungan dan penyelamatan untuk pembangunan yang berkelanjutan,” ujar Faris.

Ia mengakui upaya masyarakat tersebut akan ditopang oleh pemerintah daerah dengan meluncurkan berbagai program yang berpihak pada pemberdayaan ekonomi yang berkelanjutan. “Tahun ini Painemo  itu akan kita tata dengan baik. Kita siapkan tempat yang baik bagi ibu-ibu untuk menjual berbagai hasil kerajinannya sehingga kalau bisa uang wisatawan itu habis di Painemu dan bukan habis di Waisai,” ujar Abdul Faris Umlati, SE.

 Deklarasi kawasan konservasi Kepulauan Fam ini ditandai dengann penandatangan berita acara kesepakatan bersama masyarakat adat dari tiga kampung yang diwakili oleh seluruh marga yang mendiami ketiga kampung tersebut.

Albert Nebore, Pimpinan CI Sorong menjelaskan deklarasi adat ini dilaksanakan setelah melewati berbagai tahapan, khususnya tahapan musyarawarah mufakat antara masyarakat adat sendiri. Bahkan katanya, deklarasi kawasan konservasi ini berawal dari inisiatif masyarakat itu sendiri.

Selain mendeklarasikan kawasan konservasi, pada kesempatan tersebut Bupati Raja Ampat, Abdul Faris Umlati, SE didampingi Direktur Eksekutif CI Indonesia, Ketut Sarjana Putra, Pimpinan CI Sorong, Albert Nebore, Anggota DPRD Raja Ampat, Charles Imbir,ST juga meresmi pos pengawasan yang akan menjadi tempat pemantauan dan monitoring dalam Kawasan Konservasi Kepulauan Fam tersebut. (by. Petrus Rabu,S.Fil)

 

Tag KONSERVASI KONSERVASI konservasi Wakil Bupati Raja Ampat BUPATI RAJA AMPAT BUPATI RAJA AMPAT raja ampat waisai

Tentang Penulis

Petrus Rabu
Petrus Rabu

Staf di Bagian Humas Sekretariat Daerah Pemerintah Kabupaten Raja Ampat, Provinsi Papua Barat. Indonesia